Poseidon memperkosa Medusa. Kasus tersebut dilimpahkan pada penguasa Athena, namun Poseidon dibebaskan karena ia dewa laut. Dan tuduhan justru berbalik: Medusalah yang dianggap merayu Poseidon. Kutukan dilayangkan pada Medusa sehingga rambutnya tumbuh menjadi ular. Lantaran sorot matanya, siapapun yang menatap berubah menjadi batu. Seisi kota ketakutan oleh tatapan matanya. Terbitlah agenda baru bagi kota tersebut: memburu dan membunuh Medusa.
Berkaca pada kisah Medusa adalah berkaca pada hadirnya relasi kuasa dalam kasus pelecehan seksual di wilayah kampus. Adanya surplus kekuasaan pada pelaku dan defisit pada korban mempersulit proses hukum. Kaum muda, khususnya mahasiswa yang dikenal berguru pada kebenaran dan keadilan justru gagap dalam mengutarakan perkara pelecehan seksual. Kejahatan itu hanya sampai di ranah cerita dari mulut ke mulut karena dianggap aib. Angka kasus yang selama ini kita ketahui sebatas fenomena gunung es, tidak banyak yang berani melapor. Berani dan tegas menghadapi tokoh otoritas tidak pernah jadi pilihan mudah. Padahal mahasiswa berada di fase yang rentan terhadap pelecehan seksual.
“Some previous studies suggest that university women are at greater risk than women of a comparable age in the general population….Koss (1988) found that 44% of the college women in her sample reported some type of sexual victimization within a 1-year period. A single-site, longitudinal study of 100 college women found that 29% of the sample reported being sexually victimized (including sexual contact, sexual coercion, attempted rape, or rape)“
–The Campus Sexual Assault Study, 2007
Universitas sekelas Sorbonne sekalipun masih mengupayakan aturan yang membahas pelecehan seksual. Frédérique Martz berujar, “Semua pintu harus dibuka. Maksudnya, berikan fasilitas yang sangat
mungkin kepada mahasiswi agar mau datang menceritakan kasusnya. Di
sinilah tugas utama kami. Pelecehan adalah kisah yang ujungnya
menyakitkan. Lebih dari 70% mengalami kisah panjang dari agresi seksual
sejenis itu.”
Ketiadaan payung hukum yang menaungi kebebasan dan kenyamanan mencari ilmu di kampus membuat kita enggan bicara apalagi mengadu. Ditambah lagi langgengnya mitos-mitos pemerkosaan seperti berikut:
Tidak seperti tindakan kriminal lain yang mengarah pada hal materiil: pencurian, perampokan. Uang dan rumah bisa diganti. Tapi tubuh kita hanya satu. Pelecehan terhadap tubuh mengakibatkan seseorang hidup bersama kenangan atas apa yang terjadi pada tubuh itu seumur hidup.
Semoga untuk ke depannya regulasi anti pelecehan seksual di kampus dapat direalisasikan.
Rubber Soul, salah satu album favorit saya dan album The Beatles pertama yang saya denger. Inget banget waktu SD saya dan adik saya dikasih masing-masing satu kaset pita sama ayah saya. Adik saya pilih Beatles For Sale saya pilih Rubber Soul.
Satu-satunya kaset pita yang saya punya waktu itu dan diputer tiap hari sampe suaranya mendem. 😅 (Kemudian ketagihan beli kaset pita)
Michelle dan In My Life lagu favorit saya di album ini. Suka sekali sisipan bahasa Perancis di lagu Michelle dan solo piano George Martin di lagu In My Life.
.
.
.
“All these places had their moments. With lovers and friends I still can recall.
Some are dead and some are living. In my life, I’ve loved them all.”
Saya kangen SMA waktu zaman kelas 11. Udah penjurusan dan gak mikirin UN ataupun SNMPTN/SBMPTN. Yang saya pikirin cuma main.
Waktu SMA temen sebangku saya perempuan, namanya Novi di depan saya ada Luki sama Prana. Udah aja itu berempat formasi nya gak berubah. Yang lain tukeran tempat duduk kemana mana. Ini kita berempat aja terus.
Luki sama Prana ini orangnya suka melucu. Kalau melucu, lucu sekali suka bikin saya sama Novi ngakak. Luki sama Prana ini sohib. Bromance lah. Kalau LGBT heboh dari tahun 2011, ini anak berdua udah sibuk ikutan rusuh bursa LGBT.
Canda deng.
Saya gatau kabar Prana sekarang. Dia menghilang semenjak lulus. Nongol di grup Line kelas aja enggak. :( Sehat ya Pran. Itu brewok gausah dicukur, percuma.
Luki sekarang jadi mahasiswa Kedokteran UNISBA. (Iya, namanya Praluki Herliawan. Iya yang ikutan pemilu Ketua BEM FK UNISBA tapi kalah. Pukpuk) Dari dulu pengen jadi dokter, akhirnya selangkah lebih maju ya Kay. Luki bolor abis. Bolor. Bolor banget. Kalau naik motor gak pake kacamata bisa membahayakan bumi ini. Kangen euy Ki.
Novi pendek dan kecil tapi merupakan aset berharga karena diantara kami berempat dia yang paling rajin. Novi merupakan tempat nyontek Luki dan Prana ketika ulangan. Gawat adalah ketika ada ulangan matematika dan Luki gak bawa kacamata. Karena Luki bolor, dia harus nyontek super deket sama kertas Novi which is keliatan pisan nyonteknya teh. Novi sekarang di Psikologi UNISBA dan masih tetap pendek. Kalau ketemu, wajib liat hak sepatunya.
.
Ada Jeremy yang jago nyanyi, ada Molo yang kalau ngomong kaya orang berkumur, ada Helmi yang jago gambar, ada Putri sang guru besar Fisika, ada Ryan-Theo-Arif yang kalau ngebanyol bodor pisan, ada Lita teman berbagi lagu, ada Arifa yang super tinggi, ada Anto-Rahma yang pacaran melulu, ada Piul Beyonce KW Super dan semuamuanya anak IPA6 yang selalu saya kangenin. Termasuk kamu hey Anon.
Penuh warna pokokne SMA tuh. Banyak yang bisa diketawain, banyak yang bisa dilakukan. Kerasa banget sekarang kalau ternyata jadi anak SMA enak banget.